Ekonomi Sehari-hari

Saham itu Gila

Saham itu gila. Bahkan lebih tepatnya, pasar yang gila. 

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di pasar saham banyak penjual dan pembeli yang gila. Kenapa gila?


Analisis Teknikal

Adalah usaha untuk mengetahui apakah sebuah saham akan naik, turun atau tetap yang didasarkan pada minat pembeli. Belilah saham yang nantinya akan banyak peminatnya.

Jika banyak pembeli meminati sebuah saham, apapun sebabnya. Saham akan naik harganya.

Jika seseorang tau tanda awal sebuah saham akan diminati banyak orang, akan mendulang keuntungan.

Analisis fundamental

Adalah melihat masa lalu sebagai cermin masa depan. Track record. Belilah perusahaan yang baik performanya.

Sesuatu perusahaan yang memiliki performa baik dan menguntungkan dianggap memiliki peluang lebih besar untuk tetap untung dimasa depan.

Sesuatu perusahaan yang performanya jelek, akan sulit membalikkan keadaan.

Masa depan

Kedua analisis diatas adalah upaya memprediksi masa depan dengan cara berbeda.

Padahal menebak masa depan bisa menjadi hal gila.

Saya sudah melihat analisis teknikal gagal menebak masa depan. Pun analisis fundamental meleset dalam dugaan.

Sehingga dipasar yang gila ini lebih baik main aman, konservatif dan pelit.

Cut loss

Ketika masa depan salah, tidak sesuai dugaan. Maka kita akan kaget. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini??

Padahal sudah bertindak sesuai SOP. Petunjuk. 

Inilah yang hanya bisa kita sikapi. Tidak perlu berlama-lama bersedih. 

Lakukan cutloss jika kita salah menduga. Ini membatasi modal. Agar tidak semakin merugi.

Take profit

Kadang pasar tidak hanya gila saat dugaan salah. Saat dugaan benar pun bisa menjadi gila. Kadang saham naik sampai harga yang tak masuk akal. Setidaknya secara fundamental sudah dianggap mahal.

Secara teknikal selama masih diminati orang banyak, tak usah ambil pusing dengan kinerja perusahaan.

Lakukan penjualan saat pasar gila. Lakukan pembelian juga saat pasar gila. 

Panduan yang bisa dipakai agar tidak gila tentu saja adalah BI rate. 

Suku bunga Bank Indonesia adalah patokan kredit yang diberikan jika kita menabung atau mendepositokan uang kita.

Semisal, saat ini BI rate 6,5%. Maka inflasi tidak akan jauh-jauh dari angka ini. Sehingga target minimal keuntungan kita adalah ini.

Jika ingin 2 kali atau 5 kali lipat dari ini, maka itu adalah pilihan anda untuk menyeimbangkan peluang versus risiko.

Sehingga patokan PER (price earning ratio) yang dianggap murah juga berubah-ubah tergantung BI rate atau rate sebuah negara. 

PER murah di Indonesia tentu beda dengan PER murah di Amerika.

Dengan bunga 6,5% maka PER layak beli ada di kisaran 15 kebawah. Dengan catatan, kinerja perusahaan baik terus. 

Jika performa perusahaan naik turun, maka faktor lain perlu dilihat. Seperti PBV, hutang dan apa pernah rugi.

Kesimpulannya beli apa?

Lihat di post berikutnya..


Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s